Keteladanan Mourinho

Setio Aji | 06.13 | 0 comments
Kekalahan bagi siapa pun tentu sangat menyakitkan, apalagi bagi seorang pelatih ”spesial” Jose Mourinho. Namun, meski timnya, Real Madrid, kalah dari Bayern Muenchen melalui drama adu penalti, Mourinho menunjukkan sifat kepemimpinan sejati yang tidak menyalahkan pemainnya.

”Kekalahan itu menyakitkan saya karena mereka telah bekerja sangat keras untuk bisa sampai ke sana. Para pemain harus kembali ke rumah, mencium istri mereka dan anak-anak mereka, serta tetap menegakkan kepala mereka,” kata Mourinho, yang tetap membanggakan para pemainnya meskipun mereka kalah di semifinal Liga Champions di Santiago Bernabeu, Madrid, Kamis (26/4) dini hari WIB.

Pelatih asal Portugal itu pun menegaskan, ia siap tetap bersama Madrid jika masih ada empati dan klub masih menginginkannya, serta jika klub bisa terus bertumbuh.

Jose Mario dos Santos Mourinho Felix yang berjuluk ”Special One” ini memang terbukti spesial. Dia berhasil mengangkat Porto menjuarai Liga Primeira Portugal dan Piala UEFA. Di Chelsea dia juga dua kali mempersembahkan juara Liga Primer dan juga Piala FA. Di Inter Milan, dia bahkan mampu mempersembahkan treble, juara Liga Serie A, juara Champions Eropa, dan Coppa Italia.

Bersama Madrid, tahun lalu dia hanya memenangi Copa del Rey setelah mengalahkan Barcelona di final. Karena itu, jika Madrid memenangi La Liga musim ini, hal itu sudah menandakan musim yang berhasil bagi klubnya.

”Kami memimpin di depan berkat usaha kami sendiri dan kami layak mendapatkan itu. Jika kami memenangi kejuaraan, itu akan menjadi sebuah musim yang bagus,” ujarnya.

Mengenai kegagalan dua pemain bintangnya, Cristiano Ronaldo dan Kaka, pada tendangan penalti, Mourinho pun dengan tegas membela kedua pemainnya itu.

”Mereka yang gagal dengan tendangannya adalah mereka yang memiliki bola untuk ditendang. Mereka tidak kenal takut, tidak mementingkan diri sendiri, mereka maju dan berusaha. Saya bangga dengan pemain-pemain saya. Mereka adalah orang-orang super, tetapi Superman adalah sebuah film,” ungkapnya.

Dia menambahkan, banyak orang mengkritik dan mempertanyakan mengapa kesalahan seperti itu terjadi. Banyak orang juga mengkritik kegagalan Ronaldo, Kaka, dan Sergio Ramos, tetapi seolah melupakan kegagalan tendangan penalti Lionel Messi.

”Orang-orang ini bekerja seperti binatang selama dua jam. Mereka memberikan semuanya dan kemudian mereka pergi ke sana (titik penalti) dan tendangannya gagal,” ujarnya.

Mourinho jauh-jauh hari sudah meyakini bahwa Ronaldo pasti suatu ketika akan gagal.

Dia menambahkan, timnya dipaksa menghadapi pertandingan menentukan, yaitu penentuan juara La Liga, melawan Barcelona, Sabtu (21/4). Sementara Bayern Muenchen bisa mengistirahatkan delapan pemain kuncinya untuk pertandingan melawan Werder Bremen, yang sudah tidak menentukan siapa yang menjadi juara Bundesliga.

”Keduanya, Bayern dan Chelsea, menggunakan pasukan keduanya pekan ini dan kemudian mereka bertanding melawan Real dan Barca, yang sama- sama bertanding untuk partai terpenting di liga domestik,” katanya.

Mourinho pun tak ragu untuk mengatakan jika ini semua adalah kesalahan bersama. ”Jika kami tidak bermain untuk La Liga, kami tidak perlu memasang orang-orang terbaik untuk Sabtu lalu. Sangat sulit untuk bisa bertahan di lebih dari satu kompetisi,” katanya.

Bela bekas klubnya

Perjalanan karier Mourinho sebagai manajer memang penuh warna dan kontroversi. Namun, satu hal yang tetap dia pegang adalah keyakinannya terhadap tim-tim yang pernah diasuhnya. Seperti membela para pemainnya di Madrid, Mourinho pun membela bekas-bekas tim yang pernah dibesarkannya.

Sebagai mantan manajer Chelsea, Mourinho juga tidak ragu untuk membela tim Inggris itu yang dicela habis-habisan oleh media-media Spanyol sebagai tim yang ”antisepak bola” karena mengandalkan bermain bertahan dan mencari peluang mencetak gol saat lawan lengah, saat mengalahkan Barcelona dalam dua laga semifinal Champions.

”Banyak orang merasa mereka adalah master-master sepak bola dan mereka akan mengkritik Chelsea sebagaimana mereka mengkritik Inter (Milan) dua tahun lalu. Namun, mereka tak tahu sama sekali. Mereka tidak tahu apa-apa mengenai karakter, mereka tidak tahu apa-apa mengenai daya upaya, mereka tidak tahu mengenai bagaimana bertahan dengan 10 orang. Saya mempunyai pahlawan-pahlawan saya di Inter, saya juga mempunyai pahlawan-pahlawan di Chelsea,” ujarnya.

Kontrak resmi Mourinho dengan Madrid memang sampai 2014. Namun, kekosongan kursi manajer di Chelsea setelah dipecatnya Andre Villas-Boas membuat nama Mourinho kembali dikait-kaitkan dengan Chelsea.

Bahkan, Daily Mail, akhir pekan lalu, melaporkan, pemilik Chelsea, Roman Abramovich, dilaporkan siap untuk membayar berapa pun untuk kembalinya Mourinho ke Chelsea setelah pemilik Chelsea itu bisa menyelesaikan perbedaan pendapatnya dengan Mourinho.(AP/AFP/Reuters/OKI)

sumber ; bola.kompas.com

Sepakbola Untuk Kemanusiaan

Setio Aji | 03.02 | 0 comments
Bagi yang memandang sinis sepak bola, lebih baik buang jauh-jauh sikap dan cara yang terlalu sempit ketika menyampaikan pendapat dan menilai olah raga paling populer di dunia ini. Ada banyak hal positif yang bisa dilakukan bersama sepak bola, termasuk untuk kegiatan kemanusiaan. Seperti yang dilakukan pengurus ‘Rumah Cemara’, rumah singgah yang diperuntukan bagi para pengguna napza dan mereka yang positif HIV-AIDS.


Sepak bola sudah diakui sudah jadi alat bahasa universal yang pengaruhnya tak kalah besar. Bahkan terkadang melebihi bidang lainnya tanpa harus menyentuh sektor atau inti persoalaan.

Di Nigeria, sukses timnas Elang Super –julukan tim sepak bola Nigeria- merebut medali emas Olimpiade Atlanta 1996 telah berhasil menurunkan tensi konflik berbau SARA. Di Irak, sukses Negeri 1001 malam menjuarai Piala Asia 2007, telah membuat jutaan rakyat Irak bisa tersenyum.

Begitu juga ketika Spanyol menjuarai Piala Dunia 2010, yang mendorong masyarakat Spanyol di dua wilayah yang selama ini menutut kemerdekaan Basque dan Catalunya, mulai merasakan kebanggaan menjadi seorang ‘Spanyol’.

Nilai positif dan universal ini juga yang akhirnya dipetik ‘Rumah Cemara’. Sepak bola telah membawa mereka yang ingin melepaskan diri dari ketergantungan napza, (minimal) secara perlahan lebih disibukan dan dialihkan pikiranya ke urusan yang lebih positif.

Bagi mereka yang merasa ‘terasingkan’ akibat diskrimani dan segala bentuk stigma, bisa memiliki harapan lebih. Mulai bersikap tidak sungkan untuk hidup berdampingan diantara yang lain.

“Sepak bola bukan metode utama, hanya bagian dari upaya untuk mendukung mereka yang berkeinginan lepas dari ketergantungan napza. Soal bisa lepas sepenuhnya atau tidak, sebenarnya dikembalikan ke diri masing-masing,” jelas Ginan Koesmayadi, pendiri Rumah Cemara.

Di ‘Rumah Cemara’ ada sejumlah divisi atau bagian yang memainkan perannya masing-masing. Sejumlah tenaga profesional dengan berbagai latar belakang berbeda ikut terlibat untuk membuat program tetap berjalan.

Saat ini, pusat perawatan ‘Rumah Cemara’ telah memberikan layanan perawatan kecanduan kepada 200 orang pengguna narkoba. Keanggotaan Rumah Cemara hingga 2010 sudah mencapai 4,317 orang dan 1,276 orang dengan HIV/AIDS, didalam 61 kelompok dukungan sebaya, termasuk 3 kantor Rumah Cemara yang terletak di Bandung, Sukabumi, dan Cianjur.

Nilai universal sepak bola juga diterapkan oleh blazesports, salah satu organisasi sosial asal Amerika Serikat. Blazesports melibatkan kegiatan olahraga dalam setiap program sosial yang mereka jalankan.

Termasuk ketika membantu para penyandang cacat di Haiti. Blazesports, menggunakan sepak bola jadi bagian dari program pemulihan psikologis dan mental untuk penyandang cacat di Haiti.

Sumber : bolaklopedia.wordpress.com

Roberto Di Matteo : Disepelekan Justru Membawa Chelsea ke Final

Setio Aji | 02.19 | 0 comments
Raut wajahnya mirip komedian kita, Da’an Aria, apalagi jika sedang tersenyum. Air mukanya yang cenderung datar juga tak menarik menjadi bahan gosip media Inggris. Sewaktu ditunjuk menjadi manajer sementara Chelsea, Maret 2012, seusai pemecatan Andre Villas-Boas, profilnya nyaris tak dibahas media. Bagi banyak orang, Roberto Di Matteo hanyalah manajer numpang lewat yang bakal ditendang begitu saja oleh sang pemilik, Roman Abramovich, seperti enam manajer yang sudah-sudah.


Hari-hari awalnya setelah naik pangkat dari asisten Villas-Boas juga tak menyenangkan. Kapten John Terry yang pernah bermain bersama dengan kostum ”The Blues” bertingkah lebih manajer ketimbang dirinya. Pada sebuah laga, Terry secara demonstratif memperlihatkan bahwa dialah ”sang bos”. Saat Di Matteo memberikan arahan, Terry menyuruhnya tutup mulut. ”Shut up!” ujar Terry sambil menaruh telunjuk di bibirnya. Di Matteo hanya terdiam dan berbalik badan.

Terry adalah aktor penting di balik pemecatan Villas-Boas. Dialah yang memimpin rekan-rekannya, terutama Frank Lampard dan Didier Drogba, untuk ”menendang” manajer termuda dalam sejarah Liga Primer itu.

Gelagat bakal senasib dengan Villas-Boas langsung tercium media, tetapi Di Matteo memilih bungkam. Dia tak sepatah kata pun bicara mengenai kondisi kamar ganti Stamford Bridge. Bahkan, setelah serangkaian kemenangan di Piala FA serta Liga Champions, pria kelahiran Swiss, 41 tahun lalu, itu tetap memberi hati kepada Terry. Menjelang laga melawan Napoli, Di Matteo lebih banyak diam dan memberikan hampir semua waktu kepada sang skipper untuk menjawab pertanyaan pers.

Tak banyak cakap, Di Matteo yang disepelekan justru membawa Chelsea ke final kompetisi Eropa paling elite, Liga Champions. Tak tanggung-tanggung, pasukannya yang pincang menyingkirkan favorit, juara bertahan, serta klub paling memesona saat ini, Barcelona. Manajer yang dipecat West Bromwich Albion dan ditolak mentah-mentah oleh Birmingham City itu juga membawa ”Si Biru” ke final Piala FA meski masih tercecer di posisi keenam klasemen Liga Primer.

Meski cenderung terlihat lembek, Di Matteo menerapkan strategi dengan tangan besi. Di perempat final, Chelsea menyingkirkan jagoan Portugal, Benfica, termasuk kemenangan 1-0 di Estadio da Luz. Pada laga di Lisabon, Di Matteo membangkucadangkan Drogba, Lampard, dan Michael Essien serta memberi lagi peran kepada Salomon Kalou dan striker yang secara psikologis tertekan, Fernando Torres.

Taktik yang semula dikritik karena terlalu besar mengambil risiko terbukti ampuh, terutama dalam kasus Torres yang mulai menemukan kembali irama terbaiknya di tangan Di Matteo.

Saat melaju ke semifinal Liga Champions, hampir tak ada yang menghitung peluang Chelsea. Bahkan, tersiar rumor, ada skenario menjadikan laga puncak di Allianz Arena Muenchen sebagai "El Clasico" jilid kesekian, Real Madrid versus Barcelona.

Di Matteo bergeming dan dia menerapkan taktik gerendel untuk membungkam ”El Barca” 1-0 di Stamford Bridge. Seusai kemenangan di putaran pertama ini, taktik Di Matteo habis diganyang kritik. Meniru taktik Jose Mourinho saat membawa Inter Milan juara, Di Matteo benar-benar menerapkan gaya bertahan kunci gerendel, catenaccio, khas Italia dengan delapan pemain yang membentuk formasi persegi panjang di zona 16 meter.

Boleh dibilang, gaya ofensif Chelsea yang sejak 2004 ditanamkan Mourinho dirombak habis oleh Di Matteo yang memerintahkan pemainnya melakukan intercept keras atau tackling hanya jika sangat yakin akan bersih dari pelanggaran.

Beberapa hari setelah kemenangan itu, taktik yang sama diterapkan Chelsea saat jumpa Arsenal. Seakan melakukan geladi bersih untuk putaran kedua di Nou Camp, Terry dan kawan-kawan membuat bomber tersubur Premiership, Robin van Persie, kehilangan sentuhan midasnya di depan gawang.

Di luar strategi kunci rapat dan disiplin ketat, sukses Chelsea melangkah ke final Liga Champions juga dipengaruhi kondisi Barcelona yang kelelahan fisik dan mental. Setelah merebut gelar juara dunia antarklub di Jepang, Desember lalu, Barcelona adalah tim yang paling banyak melalui laga kompetitif daripada klub mana pun di muka bumi.

Rivalitas mereka dengan Real Madrid di La Liga yang praktis berakhir dengan kekalahan di Nou Camp membuat semua tekanan mental membebani pundak Lionel Messi. Pada taraf tertentu, bahkan pemain terbaik dunia sekalipun tak sanggup mengatasinya, dan terlihat saat bintang Argentina itu gagal mengeksekusi penalti.

Di mata penggemar sepak bola indah, laga di Nou Camp memang menjemukan, tetapi Chelsea tidak melanggar satu pun pasal dalam peraturan permainan. Bertahan total dengan disiplin tentara serta kombinasi serangan balik secepat anak panah terbukti ampuh meredam sepak bola mengalir, passing game cantik, dan tiki-taka ala Barcelona.

Catatan penting, Chelsea mampu melakukan semuanya bukan karena faktor sang skipper Terry yang diusir wasit pada menit ke-37. Pendekatan dengan gaya low profile yang dilakukan Di Matteo- lah yang membuat ”Si Biru” sangat solid dan disiplin.

Di Matteo memilih tidak berkonfrontasi dengan Terry dan memberikan lagi tempat terhormat kepada Torres. Di Matteo belajar banyak dari Mourinho yang membentengi pemainnya agar tetap fokus pada laga. Sementara semua spekulasi mengenai tim dihadapinya seorang diri. Dia pun tak pernah resah dengan masa depannya di Stamford Bridge. Que sera-sera, katanya.

Sumber : bola.kompas.com

Chelsea vs QPR Tanpa Jabat Tangan Antar Pemain

Setio Aji | 01.59 | 0 comments

London - Pertandingan Liga Primer Ingris antara Chelsea kontra Queens Park Rangers pada akhir pekan tidak akan diawali dengan tradisi jabat tangan antara para pemain dari kedua kesebelasan. Keputusan tersebut diambil oleh otoritas Liga Primer sehubungan dengan kasus yang melibatkan kapten Chelsea John Terry dengan bek QPR Anton Ferdinand. Terry telah didakwa atas tindakan rasisme terhadap Ferdinand bulan Oktober lalu dan kini dijadwalkan muncul di pengadilan pada bulan Juli setelah Piala Eropa 2012. Terry sendiri sudah menampik dakwaan tersebut.

Pada akhir pekan, Chelsea akan menjamu QPR di Stamford Bridge dalam lanjutan pertandingan Liga Primer. Hubungan antara Terry-Ferdinand pun ikut membayangi laga tersebut. Spekulasi kemudian mulai merebak apakah Terry dan Ferdinand akan bersalaman di pertandingan tersebut. Pertanyaan kini terjawab sudah. "Posisi Liga Primer di dalam jabat tangan sebelum pertandingan tetap konsisten. Dalam kondisi nornal itu mesti dilakukan," terang Liga Primer dalam pernyataan yang dikutip Reuters.

"Akan tetapi, setelah berdiskusi dengan Chelsea dan QPR mengenai konteks legal secara potensial dan khusus terkait John Terry dan Anton Ferdinand, keputusan sudah diambil untuk meniadakan kebiasaan bersalaman untuk partai hari Minggu itu," lanjut keterangan tersebut. Di bulan Januari lalu, kedua kesebelasan juga berhadapan di babak empat Piala FA. Ketika itu, prosesi salaman juga ditiadakan.

Sumber : sport.detik.com
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Setio Aji Blog - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger