Sejak Kapan Jubah dan Baju Koko Besyahadat?

Setio Aji | 06.46 | 0 comments
Suatu sore menjelang Maghrib, dalam perjalanan ke masjid antara Kemin dan Kiai Jamal.

Kemin : Kiai, bukannya ini jadwalnya kiai jadi imam?

Kiai : Ya, memang ada apa?

Kemin : Aneh aja, kenapa kiai tak memakai baju muslim?

Kiai : Apa yang kamu maksud baju muslim itu, jubah atau baju koko? Kalau iya, sejak kapan mereka, jubah dan baju koko berikrar syahadat, hingga mereka mualaf dan muslim?

Kemin : Tapi bukankah dengan memakai baju muslim itu menegaskan status sekaligus menakar kadar keislaman seseorang, kiai?

Kiai : Itu ranahnya Gusti Allah Min. Jangan ngawur kamu, tapi ada bagusnya juga pakai jubah atau baju koko lho Min, selain memberikan kehangatan dan juga mungkin tampak elegan bagi yang menyakininya, juga bisa menutup aurat lho Min....

Kemin : Dan juga kalau dipakai sebagai baju sehari-hari pencitraannya bagus juga lho kiai,,,? seperti pejabat-pejabat negeri kita ini.


Kiai : Sakarepmu... sebenernya jubah atau koko itu hanya adat dan kebiasaan cara berpakaian pada masyarakat tertentu saja Min... dan jika dikaitkan dengan keislaman dan keimanan nggak ada kaitannya sama sekali Min. Ceritanya begini, kebetulan ketika Al Qur'an sebagai pedoman sekaligus tuntunan hidup manusia itu turun dan diterima oleh Nabi Muhammad, sebagai orang Arab tentu saja Nabi Muhammad pun berjubah dan bersorban sesuai tradisinya orang Arab. Tapi saya yakin bukan disitu esensi dari ajaran Al Wur'an yang beliau terima. Tapi esensinya adalah bagaimana menjadikan Al Qur'an itu busa mewarnai hati kita dan terefleksikan ke dalam setiap ucapan dan tingkah laku baik dalam kehidupan pribadi, beragama, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Kemin : Jadi begitu ya kiai, saya kok malah membayangkan seandainya masyarakat Arab itu berbatik dan berblangkon seperti orang Jawa. Pastinya batik dan blangkon itu mendunia jadi baju muslim ya kiai?

Kiai : Ya kira-kira begitulah....

Kemin : Lalu bagaimana dengan baju koko kiai ?

Kiai : Setau saya, baju koko itu berasal dari Cina, kamu lihat saja film-film horor vampir Cina yang kejang ketika ditempel mantra itu kan memakai baju koko? Kalau begitu apa vampir Cina itu bisa dikatakan vampir yang beriman dan muslimin?

Kemin : Mbuh lah kiai...

Percakapan akhirnya selesai, Kemin langsung pergi menuju masjid sambil ngedumel...

“Gunung Jangan Pula Meletus”

Setio Aji | 07.52 | 0 comments
oleh: Emha Ainun Nadjib - Budayawan

Khusus untuk bencana Aceh, saya terpaksa menemui Kiai Sudrun. Apakah kata mampu mengucapkan kedahsyatannya? Apakah sastra mampu menuturkan kedalaman dukanya? Apakah ilmu sanggup menemukan dan menghitung nilai- nilai kandungannya?

Wajah Sudrun yang buruk dengan air liur yang selalu mengalir pelan dari salah satu sudut bibirnya hampir membuatku marah. Karena tak bisa kubedakan apakah ia sedang berduka atau tidak. Sebab, barang siapa tidak berduka oleh ngerinya bencana itu dan oleh kesengsaraan para korban yang jiwanya luluh lantak terkeping- keping, akan kubunuh.

“Jakarta jauh lebih pantas mendapat bencana itu dibanding Aceh!,” aku menyerbu.

“Kamu juga tak kalah pantas memperoleh kehancuran,” Sudrun menyambut dengan kata- kata yang, seperti biasa, menyakitkan hati.

“Jadi, kenapa Aceh, bukan aku dan Jakarta?”

“Karena kalian berjodoh dengan kebusukan dunia, sedang rakyat Aceh dinikahkan dengan surga.”

“Orang Aceh-lah yang selama bertahun-tahun terakhir amat dan paling menderita dibanding kita senegara, kenapa masih ditenggelamkan ke kubangan kesengsaraan sedalam itu?”

“Penderitaan adalah setoran termahal dari manusia kepada Tuhannya sehingga derajat orang Aceh ditinggikan, sementara kalian ditinggalkan untuk terus menjalani kerendahan.”

“Termasuk Kiai….”

Cuh! Ludahnya melompat menciprati mukaku. Sudah biasa begini. Sejak dahulu kala. Kuusap dengan kesabaran.

“Kalau itu hukuman, apa salah mereka? Kalau itu peringatan, kenapa tidak kepada gerombolan maling dan koruptor di Jakarta? Kalau itu ujian, apa Tuhan masih kurang kenyang melihat kebingungan dan ketakutan rakyat Aceh selama ini, di tengah perang politik dan militer tak berkesudahan?”

Sudrun tertawa terkekeh-kekeh. Tidak kumengerti apa yang lucu dari kata-kataku. Badannya terguncang-guncang.

“Kamu mempersoalkan Tuhan? Mempertanyakan tindakan Tuhan? Mempersalahkan ketidakadilan Tuhan?” katanya.

Aku menjawab tegas, “Ya.”

“Kalau Tuhan diam saja bagaimana?”

“Akan terus kupertanyakan. Dan aku tahu seluruh bangsa Indonesia akan terus mempertanyakan.”

“Sampai kapan?”

“Sampai kapan pun!”

“Sampai mati?”

“Ya!”

“Kapan kamu mati?”

“Gila!”

“Kamu yang gila. Kurang waras akalmu. Lebih baik kamu mempertanyakan kenapa ilmumu sampai tidak mengetahui akan ada gempa di Aceh. Kamu bahkan tidak tahu apa yang akan kamu katakan sendiri lima menit mendatang. Kamu juga tidak tahu berapa jumlah bulu ketiakmu. Kamu pengecut. Untuk apa mempertanyakan tindakan Tuhan. Kenapa kamu tidak melawanNya. Kenapa kamu memberontak secara tegas kepada Tuhan. Kami menyingkir dari bumiNya, pindah dari alam semestaNya, kemudian kamu tabuh genderang perang menantangNya!”

“Aku ini, Kiai!” teriakku, “datang kemari, untuk merundingkan hal- hal yang bisa menghindarkanku dari tindakan menuduh Tuhan adalah diktator dan otoriter….”

Sudrun malah melompat- lompat. Yang tertawa sekarang seluruh tubuhnya. Bibirnya melebar-lebar ke kiri-kanan mengejekku.

“Kamu jahat,” katanya, “karena ingin menghindar dari kewajiban.”

“Kewajiban apa?”

“Kewajiban ilmiah untuk mengakui bahwa Tuhan itu diktator dan otoriter. Kewajiban untuk mengakuinya, menemukan logikanya, lalu belajar menerimanya, dan akhirnya memperoleh kenikmatan mengikhlaskannya. Tuhan-lah satu-satunya yang ada, yang berhak bersikap diktator dan otoriter, sebagaimana pelukis berhak menyayang lukisannya atau merobek-robek dan mencampakkannya ke tempat sampah. Tuhan tidak berkewajiban apa- apa karena ia tidak berutang kepada siapa-siapa, dan keberadaanNya tidak atas saham dan andil siapa pun. Tuhan tidak terikat oleh baik buruk karena justru Dialah yang menciptakan baik buruk. Tuhan tidak harus patuh kepada benar atau salah, karena benar dan salah yang harus taat kepadaNya. Ainun, Ainun, apa yang kamu lakukan ini? Sini, sini…” -ia meraih lengan saya dan menyeret ke tembok- “Kupinjamkan dinding ini kepadamu….”

“Apa maksud Kiai?,” aku tidak paham.

“Pakailah sesukamu.”

“Emang untuk apa?”

“Misalnya untuk membenturkan kepalamu….”

“Sinting!”

“Membenturkan kepala ke tembok adalah tahap awal pembelajaran yang terbaik untuk cara berpikir yang kau tempuh.”

Ia membawaku duduk kembali.

“Atau kamu saja yang jadi Tuhan, dan kamu atur nasib terbaik untuk manusia menurut pertimbanganmu?,” ia pegang bagian atas bajuku.

“Kamu tahu Muhammad?”, ia meneruskan, “Tahu? Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallah, tahu? Ia manusia mutiara yang memilih hidup sebagai orang jelata. Tidak pernah makan kenyang lebih dari tiga hari, karena sesudah hari kedua ia tak punya makanan lagi. Ia menjahit bajunya sendiri dan menambal sandalnya sendiri. Panjang rumahnya 4,80 cm, lebar 4,62 cm. Ia manusia yang paling dicintai Tuhan dan paling mencintai Tuhan, tetapi oleh Tuhan orang kampung Thaif diizinkan melemparinya dengan batu yang membuat jidatnya berdarah. Ia bahkan dibiarkan oleh Tuhan sakit sangat panas badan oleh racun Zaenab wanita Yahudi. Cucunya yang pertama diizinkan Tuhan mati diracun istrinya sendiri. Dan cucunya yang kedua dibiarkan oleh Tuhan dipenggal kepalanya kemudian kepala itu diseret dengan kuda sejauh ratusan kilometer sehingga ada dua kuburannya. Muhammad dijamin surganya, tetapi ia selalu takut kepada Tuhan sehingga menangis di setiap sujudnya. Sedangkan kalian yang pekerjaannya mencuri, kelakuannya penuh kerendahan budaya, yang politik kalian busuk, perhatian kalian kepada Tuhan setengah-setengah, menginginkan nasib lebih enak dibanding Muhammad? Dan kalau kalian ditimpa bencana, Tuhan yang kalian salahkan?”

Tangan Sudrun mendorong badan saya keras-keras sehingga saya jatuh ke belakang.

“Kiai,” kata saya agak pelan, “Aku ingin mempertahankan keyakinan bahwa icon utama eksistensi Tuhan adalah sifat Rahman dan Rahim….”

“Sangat benar demikian,” jawabnya, “Apa yang membuatmu tidak yakin?”

“Ya Aceh itu, Kiai, Aceh…. Untuk Aceh-lah aku bersedia Kiai ludahi.”

“Aku tidak meludahimu. Yang terjadi bukan aku meludahimu. Yang terjadi adalah bahwa kamu pantas diludahi.”

“Terserah Kiai, asal Rahman Rahim itu….”

“Rahman cinta meluas, Rahim cinta mendalam. Rahman cinta sosial, Rahim cinta lubuk hati. Kenapa?”

“Aceh, Kiai, Aceh.”

“Rahman menjilat Aceh dari lautan, Rahim mengisap Aceh dari bawah bumi. Manusia yang mulia dan paling beruntung adalah yang segera dipisahkan oleh Tuhan dari dunia. Ribuan malaikat mengangkut mereka langsung ke surga dengan rumah-rumah cahaya yang telah tersedia. Kepada saudara- saudara mereka yang ditinggalkan, porak poranda kampung dan kota mereka adalah medan pendadaran total bagi kebesaran kepribadian manusia Aceh, karena sesudah ini Tuhan menolong mereka untuk bangkit dan menemukan kembali kependekaran mereka. Kejadian tersebut dibikin sedahsyat itu sehingga mengatasi segala tema Aceh Indonesia yang menyengsarakan mereka selama ini. Rakyat Aceh dan Indonesia kini terbebas dari blok-blok psikologis yang memenjarakan mereka selama ini, karena air mata dan duka mereka menyatu, sehingga akan lahir keputusan dan perubahan sejarah yang melapangkan kedua pihak”.

“Tetapi terlalu mengerikan, Kiai, dan kesengsaraan para korban sukar dibayangkan akan mampu tertanggungkan.”

“Dunia bukan tempat utama pementasan manusia. Kalau bagimu orang yang tidak mati adalah selamat sehingga yang mati kamu sebut tidak selamat, buang dulu Tuhan dan akhirat dari konsep nilai hidupmu. Kalau bagimu rumah tidak ambruk, harta tidak sirna, dan nyawa tidak melayang, itulah kebaikan; sementara yang sebaliknya adalah keburukan? berhentilah memprotes Tuhan, karena toh Tuhan tak berlaku di dalam skala berpikirmu, karena bagimu kehidupan berhenti ketika kamu mati.”

“Tetapi kenapa Tuhan mengambil hamba-hambaNya yang tak berdosa, sementara membiarkan para penjahat negara dan pencoleng masyarakat hidup nikmat sejahtera?”

“Mungkin Tuhan tidak puas kalau keberadaan para pencoleng itu di neraka kelak tidak terlalu lama. Jadi dibiarkan dulu mereka memperbanyak dosa dan kebodohannya. Bukankah cukup banyak tokoh negerimu yang baik yang justru Tuhan bersegera mengambilnya, sementara yang kamu doakan agar cepat mati karena luar biasa jahatnya kepada rakyatnya malah panjang umurnya?”

“Gusti Gung Binathoro!,” saya mengeluh, “Kami semua dan saya sendiri, Kiai, tidaklah memiliki kecanggihan dan ketajaman berpikir setakaran dengan yang disuguhkan oleh perilaku Tuhan.”

“Kamu jangan tiba-tiba seperti tidak pernah tahu bagaimana pola perilaku Tuhan. Kalau hati manusia berpenyakit, dan ia membiarkan terus penyakit itu sehingga politiknya memuakkan, ekonominya nggraras dan kebudayaannya penuh penghinaan atas martabat diri manusia sendiri- maka Tuhan justru menambahi penyakit itu, sambil menunggu mereka dengan bencana yang sejati yang jauh lebih dahsyat. Yang di Aceh bukan bencana pada pandangan Tuhan. Itu adalah pemuliaan bagi mereka yang nyawanya diambil malaikat, serta pencerahan dan pembangkitan bagi yang masih dibiarkan hidup.”

“Bagi kami yang awam, semua itu tetap tampak sebagai ketidakadilan….”

“Alangkah dungunya kamu!” Sudrun membentak, “Sedangkan ayam menjadi riang hatinya dan bersyukur jika ia disembelih untuk kenikmatan manusia meski ayam tidak memiliki kesadaran untuk mengetahui, ia sedang riang dan bersyukur.”

“Jadi, para koruptor dan penindas rakyat tetap aman sejahtera hidupnya?”

“Sampai siang ini, ya. Sebenarnya Tuhan masih sayang kepada mereka sehingga selama satu dua bulan terakhir ini diberi peringatan berturut-turut, baik berupa bencana alam, teknologi dan manusia, dengan frekuensi jauh lebih tinggi dibanding bulan-bulan sebelumnya. Tetapi, karena itu semua tidak menjadi pelajaran, mungkin itu menjadikan Tuhan mengambil keputusan untuk memberi peringatan dalam bentuk lebih dahsyat. Kalau kedahsyatan Aceh belum mengguncangkan jiwa Jakarta untuk mulai belajar menundukkan muka, ada kemungkinan….”

“Jangan pula gunung akan meletus, Kiai!” aku memotong, karena ngeri membayangkan lanjutan kalimat Sudrun.

“Bilang sendiri sana sama gunung!” ujar Sudrun sambil berdiri dan ngeloyor meninggalkan saya.

“Kiai!” aku meloncat mendekatinya, “Tolong katakan kepada Tuhan agar beristirahat sebentar dari menakdirkan bencana-bencana alam….”

“Kenapa kau sebut bencana alam? Kalau yang kau salahkan adalah Tuhan, kenapa tak kau pakai istilah bencana Tuhan?”

Sudrun benar-benar tak bisa kutahan. Lari menghilang.

Surat Terbuka Untuk Presiden SBY

Setio Aji | 07.32 | 0 comments
Surat terbuka ini saya kutip dari koran Kompas edisi 23 Februari 2012, yang ditulis oleh Acep Iwan Saidi, seorang dosen di Fakultas Seni Rupa dan Desain di ITB. Silahkan simak tulisan dosen yang juga ketua Forum Studi Kebudayaan FSRD ITB ini.

Selamat malam, Pak Presiden! Dari Daniel Sparringa, salah seorang staf Anda, yang berbicara pada acara Soegeng Sarjadi Syndicate di TVRI—maaf lupa tanggal tayangnya—saya mendapat informasi bahwa Anda sering bangun malam. Katanya lagi, Anda membaca dan merenung, memikirkan berbagai permasalahan bangsa yang kian hari kian jelimet, kian ruwet.

Oleh karena itu, saya alamatkan surat ini kepada Anda yang begitu ”mengakrabi malam”. Saya pun menulisnya dalam larut, sehari setelah menyaksikan kesaksian Angelina Sondakh untuk kasus yang kita semua sudah tahu belaka itu.

Angie yang cantik, kita juga tahu, adalah salah satu pejabat tinggi di partai yang Bapak bina. Artinya, langsung atau tidak, Angie adalah binaan Anda. Pak Presiden, sebelumnya perlu Anda ketahui bahwa pada pemilihan presiden tahun 2004, saya adalah salah seorang yang memilih Anda.

Tentu saja, sebagai orang yang merasa diri intelektual, saya tidak sembarang memilih. Sebelum menentukan pilihan, saya merasa wajib untuk melakukan ”riset kecil-kecilan”, mulai dari menelusuri kehidupan masa kecil hingga perilaku paling mutakhir para calon presiden saat itu.

Pilihan saya jatuh kepada Anda karena pada waktu itu Anda mengingatkan saya pada sosok Arok dalam roman Arok Dedes karya Pramoedya Ananta Toer.

Tentang Arok
Dengarlah apa yang dicatat Pram tentang Arok melalui mulut tokoh Dang Hyang Lohgawe berikut ini. ”Dengan api Hyang Bathara Guru dalam dadamu, dengan ketajaman parasyu Hyang Ganesya, dengan keperkasaan Hyang Durga Mahisa suramardini, kaulah Arok, kaulah pembangun ajaran, pembangun negeri sekaligus. Dengarkan kalian semua, sejak detik ini, dalam kesaksian Hyang Bathara Guru yang berpadu dalam Brahma, Syiwa, dan Wisynu dengan semua syaktinya, aku turunkan pada anak ini nama yang akan membawanya pada kenyataan sebagai bagian dari cakrawati. Kenyataan itu kini masih membara dalam dirimu. Arok namamu” (1999: 53).

Demikianlah, Pak Presiden, imajinasi saya tentang Anda kala itu. Namun, dalam perjalanannya, perlahan-lahan imajinasi tersebut pupus. Entah karena apa, dalam mata batin saya, gambaran tritunggal (Brahma, Syiwa, dan Wisynu) sirna dari diri Anda. Saya tidak lagi merasakan sorot mata Sudra, sikap Satria, dan esensi Brahmana.

Hingga hari ini, Anda memang sangat santun, tetapi kesantunan itu terasa tak memiliki aura. Memandang Anda—artinya mencoba mengerti dan menerima kepemimpinan Anda—saya seperti menatap sebuah potret dalam bingkai. Sebuah potret, tentu bukanlah realitas sebenarnya. Ia adalah realitas citra.

Barangkali tidak ada yang salah dengan Anda, Pak Presiden. Kekuasaan, dalam sejarah bangsa mana pun, memang memiliki karakter pengisap. Barangsiapa tidak mampu menaklukkannya, ia akan tersedot hingga ke rangka. Sirnanya tritunggal yang saya imajinasikan terdapat pada sosok Anda kiranya juga karena isapan gravitasi kuasa tersebut.

Matinya tritunggal sedemikian meniscayakan hidupnya kelemahan tak terelakkan pada diri Anda. Lihatlah, sayap Anda patah. Anda tidak mampu menjadi ”Garuda Yang Terbang Sendiri”—meminjam judul drama Sanoesi Pane. Ada semacam kekhawatiran pada diri Anda jika terbang sedemikian, yakni kecemasan untuk tidak bisa kembali hinggap pada takhta yang notabene mengisap Anda secara terus-menerus itu. Anda lebih suka diisap daripada menyedot habis daya kuasa. Anda dikuasai, bukan menguasai.

Itulah kiranya, disadari atau tidak, yang membuat Anda selalu terjaga saat larut seperti dikisahkan Sparringa. Tanpa keluh kesah kepada Sparringa, saya pikir tubuh Anda sendiri telah berbicara. Di balik baju kebesaran presiden, Anda tidak bisa mengelak kalau sorot mata Anda makin sayu, satu-dua keriput bertambah di wajah Anda. Jika saja Anda bukan presiden, barangkali sepanjang hari Anda akan tampak lusuh, layaknya seorang bapak yang capek memikirkan ulah anak-anaknya yang kelewat nakal. Wajah Anda tak lagi bersinar seperti sebelum jadi penguasa.

Gara-gara korupsi
Pemberantasan korupsi yang menjadi jargon partai binaan Anda, Pak Presiden, itulah yang saya pikir menambah satu-dua kerutan di wajah Anda tahun-tahun terakhir ini. Saya yakin Anda dan keluarga tidak melakukan tindakan kriminal tersebut, tetapi Anda terjebak dalam kepungan para bandit.

Kiranya Anda juga sang pemilik gagasan besar jargon pemberantasan korupsi tadi sehingga dengan sangat yakin Anda memasang badan di barisan paling depan pendekar pembunuh koruptor. Sayang, nyatanya Anda dikhianati. Anda jadi sandera di dalam jargon yang Anda gagas. Akibatnya, Anda menjadi sangat lemah. Anda tahu kepada siapa Anda mesti marah, tetapi Anda juga tahu hal itu tidak mungkin dilakukan. Ah, betapa menyakitkan hidup seperti itu.

Pak Presiden yang terhormat,
Malam semakin larut, tetapi kian gelap dan sunyi di luar, kian benderang hati kita di dalam. Drama Nazar dan Angie pastilah akan semakin jelas jika ditatap dalam suasana seperti ini. Ketahuilah, penyelesaian kasus pelik yang menimpa mereka, juga banyak kasus lain, hanya bertumpu kepada Anda. Sekuat apa pun KPK, saya tidak yakin lembaga ini bisa menyelesaikannya. Anda mungkin tidak mengintervensi KPK dan penegak hukum dalam arti negatif, tetapi ketahuilah, tangan Anda bisa memanjang tanpa Anda ketahui, kekuasaan Anda bisa membengkak tanpa Anda sadari.

Ingatlah selalu bahwa Anda sedang terus-menerus dikhianati. Jadi, mohon keluarlah. Anda sudah mampu menguasai malam. Itu artinya Anda bisa menyongsong fajar saat semua makhluk sedang lelap. Ini kali saatnya Anda meradang, dan menerjang—meminjam sajak Chairil Anwar. Jadilah garuda agar kami menjadikan Anda lambang yang selamanya terpatri di dada.

Saya seorang dosen, Pak Presiden. Nyaris setiap hari saya membicarakan hal-hal ideal dengan mahasiswa. Kepada para mahasiswa saya selalu mengajarkan mimpi tentang Indonesia yang lebih baik di masa depan. Jadi, tolong saya, Pak Presiden, tolong bantu saya untuk menjadikan ajaran itu bukan ilusi, apalagi dusta.Maka, jawablah permohonan ini dengan sebuah tindakan: bahwa besok pagi, saat fajar tuntas memintal malam, Anda akan menjadi presiden yang revolusioner. Atas apa pun yang bernama kuasa, jadikanlah diri Anda Arok, sang pembangun itu!

Acep Iwan Saidi Ketua Forum Studi Kebudayaan FSRD ITB

Keteladanan Mourinho

Setio Aji | 06.13 | 0 comments
Kekalahan bagi siapa pun tentu sangat menyakitkan, apalagi bagi seorang pelatih ”spesial” Jose Mourinho. Namun, meski timnya, Real Madrid, kalah dari Bayern Muenchen melalui drama adu penalti, Mourinho menunjukkan sifat kepemimpinan sejati yang tidak menyalahkan pemainnya.

”Kekalahan itu menyakitkan saya karena mereka telah bekerja sangat keras untuk bisa sampai ke sana. Para pemain harus kembali ke rumah, mencium istri mereka dan anak-anak mereka, serta tetap menegakkan kepala mereka,” kata Mourinho, yang tetap membanggakan para pemainnya meskipun mereka kalah di semifinal Liga Champions di Santiago Bernabeu, Madrid, Kamis (26/4) dini hari WIB.

Pelatih asal Portugal itu pun menegaskan, ia siap tetap bersama Madrid jika masih ada empati dan klub masih menginginkannya, serta jika klub bisa terus bertumbuh.

Jose Mario dos Santos Mourinho Felix yang berjuluk ”Special One” ini memang terbukti spesial. Dia berhasil mengangkat Porto menjuarai Liga Primeira Portugal dan Piala UEFA. Di Chelsea dia juga dua kali mempersembahkan juara Liga Primer dan juga Piala FA. Di Inter Milan, dia bahkan mampu mempersembahkan treble, juara Liga Serie A, juara Champions Eropa, dan Coppa Italia.

Bersama Madrid, tahun lalu dia hanya memenangi Copa del Rey setelah mengalahkan Barcelona di final. Karena itu, jika Madrid memenangi La Liga musim ini, hal itu sudah menandakan musim yang berhasil bagi klubnya.

”Kami memimpin di depan berkat usaha kami sendiri dan kami layak mendapatkan itu. Jika kami memenangi kejuaraan, itu akan menjadi sebuah musim yang bagus,” ujarnya.

Mengenai kegagalan dua pemain bintangnya, Cristiano Ronaldo dan Kaka, pada tendangan penalti, Mourinho pun dengan tegas membela kedua pemainnya itu.

”Mereka yang gagal dengan tendangannya adalah mereka yang memiliki bola untuk ditendang. Mereka tidak kenal takut, tidak mementingkan diri sendiri, mereka maju dan berusaha. Saya bangga dengan pemain-pemain saya. Mereka adalah orang-orang super, tetapi Superman adalah sebuah film,” ungkapnya.

Dia menambahkan, banyak orang mengkritik dan mempertanyakan mengapa kesalahan seperti itu terjadi. Banyak orang juga mengkritik kegagalan Ronaldo, Kaka, dan Sergio Ramos, tetapi seolah melupakan kegagalan tendangan penalti Lionel Messi.

”Orang-orang ini bekerja seperti binatang selama dua jam. Mereka memberikan semuanya dan kemudian mereka pergi ke sana (titik penalti) dan tendangannya gagal,” ujarnya.

Mourinho jauh-jauh hari sudah meyakini bahwa Ronaldo pasti suatu ketika akan gagal.

Dia menambahkan, timnya dipaksa menghadapi pertandingan menentukan, yaitu penentuan juara La Liga, melawan Barcelona, Sabtu (21/4). Sementara Bayern Muenchen bisa mengistirahatkan delapan pemain kuncinya untuk pertandingan melawan Werder Bremen, yang sudah tidak menentukan siapa yang menjadi juara Bundesliga.

”Keduanya, Bayern dan Chelsea, menggunakan pasukan keduanya pekan ini dan kemudian mereka bertanding melawan Real dan Barca, yang sama- sama bertanding untuk partai terpenting di liga domestik,” katanya.

Mourinho pun tak ragu untuk mengatakan jika ini semua adalah kesalahan bersama. ”Jika kami tidak bermain untuk La Liga, kami tidak perlu memasang orang-orang terbaik untuk Sabtu lalu. Sangat sulit untuk bisa bertahan di lebih dari satu kompetisi,” katanya.

Bela bekas klubnya

Perjalanan karier Mourinho sebagai manajer memang penuh warna dan kontroversi. Namun, satu hal yang tetap dia pegang adalah keyakinannya terhadap tim-tim yang pernah diasuhnya. Seperti membela para pemainnya di Madrid, Mourinho pun membela bekas-bekas tim yang pernah dibesarkannya.

Sebagai mantan manajer Chelsea, Mourinho juga tidak ragu untuk membela tim Inggris itu yang dicela habis-habisan oleh media-media Spanyol sebagai tim yang ”antisepak bola” karena mengandalkan bermain bertahan dan mencari peluang mencetak gol saat lawan lengah, saat mengalahkan Barcelona dalam dua laga semifinal Champions.

”Banyak orang merasa mereka adalah master-master sepak bola dan mereka akan mengkritik Chelsea sebagaimana mereka mengkritik Inter (Milan) dua tahun lalu. Namun, mereka tak tahu sama sekali. Mereka tidak tahu apa-apa mengenai karakter, mereka tidak tahu apa-apa mengenai daya upaya, mereka tidak tahu mengenai bagaimana bertahan dengan 10 orang. Saya mempunyai pahlawan-pahlawan saya di Inter, saya juga mempunyai pahlawan-pahlawan di Chelsea,” ujarnya.

Kontrak resmi Mourinho dengan Madrid memang sampai 2014. Namun, kekosongan kursi manajer di Chelsea setelah dipecatnya Andre Villas-Boas membuat nama Mourinho kembali dikait-kaitkan dengan Chelsea.

Bahkan, Daily Mail, akhir pekan lalu, melaporkan, pemilik Chelsea, Roman Abramovich, dilaporkan siap untuk membayar berapa pun untuk kembalinya Mourinho ke Chelsea setelah pemilik Chelsea itu bisa menyelesaikan perbedaan pendapatnya dengan Mourinho.(AP/AFP/Reuters/OKI)

sumber ; bola.kompas.com

Sepakbola Untuk Kemanusiaan

Setio Aji | 03.02 | 0 comments
Bagi yang memandang sinis sepak bola, lebih baik buang jauh-jauh sikap dan cara yang terlalu sempit ketika menyampaikan pendapat dan menilai olah raga paling populer di dunia ini. Ada banyak hal positif yang bisa dilakukan bersama sepak bola, termasuk untuk kegiatan kemanusiaan. Seperti yang dilakukan pengurus ‘Rumah Cemara’, rumah singgah yang diperuntukan bagi para pengguna napza dan mereka yang positif HIV-AIDS.


Sepak bola sudah diakui sudah jadi alat bahasa universal yang pengaruhnya tak kalah besar. Bahkan terkadang melebihi bidang lainnya tanpa harus menyentuh sektor atau inti persoalaan.

Di Nigeria, sukses timnas Elang Super –julukan tim sepak bola Nigeria- merebut medali emas Olimpiade Atlanta 1996 telah berhasil menurunkan tensi konflik berbau SARA. Di Irak, sukses Negeri 1001 malam menjuarai Piala Asia 2007, telah membuat jutaan rakyat Irak bisa tersenyum.

Begitu juga ketika Spanyol menjuarai Piala Dunia 2010, yang mendorong masyarakat Spanyol di dua wilayah yang selama ini menutut kemerdekaan Basque dan Catalunya, mulai merasakan kebanggaan menjadi seorang ‘Spanyol’.

Nilai positif dan universal ini juga yang akhirnya dipetik ‘Rumah Cemara’. Sepak bola telah membawa mereka yang ingin melepaskan diri dari ketergantungan napza, (minimal) secara perlahan lebih disibukan dan dialihkan pikiranya ke urusan yang lebih positif.

Bagi mereka yang merasa ‘terasingkan’ akibat diskrimani dan segala bentuk stigma, bisa memiliki harapan lebih. Mulai bersikap tidak sungkan untuk hidup berdampingan diantara yang lain.

“Sepak bola bukan metode utama, hanya bagian dari upaya untuk mendukung mereka yang berkeinginan lepas dari ketergantungan napza. Soal bisa lepas sepenuhnya atau tidak, sebenarnya dikembalikan ke diri masing-masing,” jelas Ginan Koesmayadi, pendiri Rumah Cemara.

Di ‘Rumah Cemara’ ada sejumlah divisi atau bagian yang memainkan perannya masing-masing. Sejumlah tenaga profesional dengan berbagai latar belakang berbeda ikut terlibat untuk membuat program tetap berjalan.

Saat ini, pusat perawatan ‘Rumah Cemara’ telah memberikan layanan perawatan kecanduan kepada 200 orang pengguna narkoba. Keanggotaan Rumah Cemara hingga 2010 sudah mencapai 4,317 orang dan 1,276 orang dengan HIV/AIDS, didalam 61 kelompok dukungan sebaya, termasuk 3 kantor Rumah Cemara yang terletak di Bandung, Sukabumi, dan Cianjur.

Nilai universal sepak bola juga diterapkan oleh blazesports, salah satu organisasi sosial asal Amerika Serikat. Blazesports melibatkan kegiatan olahraga dalam setiap program sosial yang mereka jalankan.

Termasuk ketika membantu para penyandang cacat di Haiti. Blazesports, menggunakan sepak bola jadi bagian dari program pemulihan psikologis dan mental untuk penyandang cacat di Haiti.

Sumber : bolaklopedia.wordpress.com

Roberto Di Matteo : Disepelekan Justru Membawa Chelsea ke Final

Setio Aji | 02.19 | 0 comments
Raut wajahnya mirip komedian kita, Da’an Aria, apalagi jika sedang tersenyum. Air mukanya yang cenderung datar juga tak menarik menjadi bahan gosip media Inggris. Sewaktu ditunjuk menjadi manajer sementara Chelsea, Maret 2012, seusai pemecatan Andre Villas-Boas, profilnya nyaris tak dibahas media. Bagi banyak orang, Roberto Di Matteo hanyalah manajer numpang lewat yang bakal ditendang begitu saja oleh sang pemilik, Roman Abramovich, seperti enam manajer yang sudah-sudah.


Hari-hari awalnya setelah naik pangkat dari asisten Villas-Boas juga tak menyenangkan. Kapten John Terry yang pernah bermain bersama dengan kostum ”The Blues” bertingkah lebih manajer ketimbang dirinya. Pada sebuah laga, Terry secara demonstratif memperlihatkan bahwa dialah ”sang bos”. Saat Di Matteo memberikan arahan, Terry menyuruhnya tutup mulut. ”Shut up!” ujar Terry sambil menaruh telunjuk di bibirnya. Di Matteo hanya terdiam dan berbalik badan.

Terry adalah aktor penting di balik pemecatan Villas-Boas. Dialah yang memimpin rekan-rekannya, terutama Frank Lampard dan Didier Drogba, untuk ”menendang” manajer termuda dalam sejarah Liga Primer itu.

Gelagat bakal senasib dengan Villas-Boas langsung tercium media, tetapi Di Matteo memilih bungkam. Dia tak sepatah kata pun bicara mengenai kondisi kamar ganti Stamford Bridge. Bahkan, setelah serangkaian kemenangan di Piala FA serta Liga Champions, pria kelahiran Swiss, 41 tahun lalu, itu tetap memberi hati kepada Terry. Menjelang laga melawan Napoli, Di Matteo lebih banyak diam dan memberikan hampir semua waktu kepada sang skipper untuk menjawab pertanyaan pers.

Tak banyak cakap, Di Matteo yang disepelekan justru membawa Chelsea ke final kompetisi Eropa paling elite, Liga Champions. Tak tanggung-tanggung, pasukannya yang pincang menyingkirkan favorit, juara bertahan, serta klub paling memesona saat ini, Barcelona. Manajer yang dipecat West Bromwich Albion dan ditolak mentah-mentah oleh Birmingham City itu juga membawa ”Si Biru” ke final Piala FA meski masih tercecer di posisi keenam klasemen Liga Primer.

Meski cenderung terlihat lembek, Di Matteo menerapkan strategi dengan tangan besi. Di perempat final, Chelsea menyingkirkan jagoan Portugal, Benfica, termasuk kemenangan 1-0 di Estadio da Luz. Pada laga di Lisabon, Di Matteo membangkucadangkan Drogba, Lampard, dan Michael Essien serta memberi lagi peran kepada Salomon Kalou dan striker yang secara psikologis tertekan, Fernando Torres.

Taktik yang semula dikritik karena terlalu besar mengambil risiko terbukti ampuh, terutama dalam kasus Torres yang mulai menemukan kembali irama terbaiknya di tangan Di Matteo.

Saat melaju ke semifinal Liga Champions, hampir tak ada yang menghitung peluang Chelsea. Bahkan, tersiar rumor, ada skenario menjadikan laga puncak di Allianz Arena Muenchen sebagai "El Clasico" jilid kesekian, Real Madrid versus Barcelona.

Di Matteo bergeming dan dia menerapkan taktik gerendel untuk membungkam ”El Barca” 1-0 di Stamford Bridge. Seusai kemenangan di putaran pertama ini, taktik Di Matteo habis diganyang kritik. Meniru taktik Jose Mourinho saat membawa Inter Milan juara, Di Matteo benar-benar menerapkan gaya bertahan kunci gerendel, catenaccio, khas Italia dengan delapan pemain yang membentuk formasi persegi panjang di zona 16 meter.

Boleh dibilang, gaya ofensif Chelsea yang sejak 2004 ditanamkan Mourinho dirombak habis oleh Di Matteo yang memerintahkan pemainnya melakukan intercept keras atau tackling hanya jika sangat yakin akan bersih dari pelanggaran.

Beberapa hari setelah kemenangan itu, taktik yang sama diterapkan Chelsea saat jumpa Arsenal. Seakan melakukan geladi bersih untuk putaran kedua di Nou Camp, Terry dan kawan-kawan membuat bomber tersubur Premiership, Robin van Persie, kehilangan sentuhan midasnya di depan gawang.

Di luar strategi kunci rapat dan disiplin ketat, sukses Chelsea melangkah ke final Liga Champions juga dipengaruhi kondisi Barcelona yang kelelahan fisik dan mental. Setelah merebut gelar juara dunia antarklub di Jepang, Desember lalu, Barcelona adalah tim yang paling banyak melalui laga kompetitif daripada klub mana pun di muka bumi.

Rivalitas mereka dengan Real Madrid di La Liga yang praktis berakhir dengan kekalahan di Nou Camp membuat semua tekanan mental membebani pundak Lionel Messi. Pada taraf tertentu, bahkan pemain terbaik dunia sekalipun tak sanggup mengatasinya, dan terlihat saat bintang Argentina itu gagal mengeksekusi penalti.

Di mata penggemar sepak bola indah, laga di Nou Camp memang menjemukan, tetapi Chelsea tidak melanggar satu pun pasal dalam peraturan permainan. Bertahan total dengan disiplin tentara serta kombinasi serangan balik secepat anak panah terbukti ampuh meredam sepak bola mengalir, passing game cantik, dan tiki-taka ala Barcelona.

Catatan penting, Chelsea mampu melakukan semuanya bukan karena faktor sang skipper Terry yang diusir wasit pada menit ke-37. Pendekatan dengan gaya low profile yang dilakukan Di Matteo- lah yang membuat ”Si Biru” sangat solid dan disiplin.

Di Matteo memilih tidak berkonfrontasi dengan Terry dan memberikan lagi tempat terhormat kepada Torres. Di Matteo belajar banyak dari Mourinho yang membentengi pemainnya agar tetap fokus pada laga. Sementara semua spekulasi mengenai tim dihadapinya seorang diri. Dia pun tak pernah resah dengan masa depannya di Stamford Bridge. Que sera-sera, katanya.

Sumber : bola.kompas.com

Chelsea vs QPR Tanpa Jabat Tangan Antar Pemain

Setio Aji | 01.59 | 0 comments

London - Pertandingan Liga Primer Ingris antara Chelsea kontra Queens Park Rangers pada akhir pekan tidak akan diawali dengan tradisi jabat tangan antara para pemain dari kedua kesebelasan. Keputusan tersebut diambil oleh otoritas Liga Primer sehubungan dengan kasus yang melibatkan kapten Chelsea John Terry dengan bek QPR Anton Ferdinand. Terry telah didakwa atas tindakan rasisme terhadap Ferdinand bulan Oktober lalu dan kini dijadwalkan muncul di pengadilan pada bulan Juli setelah Piala Eropa 2012. Terry sendiri sudah menampik dakwaan tersebut.

Pada akhir pekan, Chelsea akan menjamu QPR di Stamford Bridge dalam lanjutan pertandingan Liga Primer. Hubungan antara Terry-Ferdinand pun ikut membayangi laga tersebut. Spekulasi kemudian mulai merebak apakah Terry dan Ferdinand akan bersalaman di pertandingan tersebut. Pertanyaan kini terjawab sudah. "Posisi Liga Primer di dalam jabat tangan sebelum pertandingan tetap konsisten. Dalam kondisi nornal itu mesti dilakukan," terang Liga Primer dalam pernyataan yang dikutip Reuters.

"Akan tetapi, setelah berdiskusi dengan Chelsea dan QPR mengenai konteks legal secara potensial dan khusus terkait John Terry dan Anton Ferdinand, keputusan sudah diambil untuk meniadakan kebiasaan bersalaman untuk partai hari Minggu itu," lanjut keterangan tersebut. Di bulan Januari lalu, kedua kesebelasan juga berhadapan di babak empat Piala FA. Ketika itu, prosesi salaman juga ditiadakan.

Sumber : sport.detik.com
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Setio Aji Blog - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger